-->

Malu Bagi Muslimah

Wanita muslimah dihiasi dengan rasa malu, mereka medampingi laki-laki dalam perjalanan kehidupan dan mendidik anak-anak dengan fitrah kewanitaan yang masih bersih. Hal ini sebagaimana di isyaratkan Allah Subhanahu wata'ala dalam Al-Qur'an, ketika bercerita tentang salah satu putri Nabi Syu'aib a.s yang diperintahkan untuk memanggil Nabi Musa a.s ''Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu, berjalan dengan malu-malu, ia berkata ''Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.'' (Q.S. Al-Qashash: 25). 


Malu Bagi Muslimah

Puti Nabi Syu'aib a.s berjalan dengan penuh rasa iffah (kebersihan jiwa) ketika bertemu seorang laki-laki. Berjalan dengan penuh rasa malu dan jauh dari usaha menarik perhatian. Meskipun demikian, ia tetap mampu menguasai diri dan menyampaikan apa yang harus disampaikan dengan ikhlas. Inilah rasa malu yang bersumber dari fitrah yang suci.

Seorang gadis yang anggun dan shalihah, secara fitrah akan merasa malu ketika bertemu dan berbicara dengan laki-laki. Akan tetapi karena kesucian dan keistiqamahannya  ia tidak gugup, ia berbicara dengan jelas dan sebatas keperluan. Adapun wanita yang senantiasa bersolek, pergi tanpa muhrim, bahkan bercampur baur dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, tanpa ada keperluan yang di bolehkan secara syar'i, maka wanita seperti ini jelas bukan hasil didikan Al-Qur'an ataupun Islam.

Dengan demikian mereka telah membantu terealisasinya keinginan dalam keburukan dan kerusakan. Rasa malu akan menumbuhkan Iffah (kesucian hati). Maka barang siapa yang memiliki rasa malu yang pada tempatnya hingga dapat mengendalikan diri dari perbuatan buruk, berarti ia telah menjaga kesucian dirinya.

Rasa malu adalah kebaikan. Jadi, semakin tebal rasa malu yang dimiliki, maka semakin banyak kebaikannya. Begitu juga sebaliknya, semakin sedikit rasa malu yang dimiliki maka, akan semakin sedikit pula kebaikannya. Tidak perlu ada rasa malu saat, mengajarkan masalah-masalah agama dan saat mencari kebenaran. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wata'ala ''Dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.'' (Al-Ahzab: 53)

Berlangganan update artikel terbaru via email: