-->

Menggunakan Takdir Sebagai Argumen

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Artinya: ''Demi jiwa dan penyempurnaanya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan. Maka sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Asy-Syams: 7-10)
Menggunakan Takdir
Menggunakan takdir sebagai argumen. Allah swt telah telah memerintahkan kepada kita untuk meyakini dan menaati-Nya, juga melarang kita dari kekufuran dan kemaksiatan. Adapun yang telah di gariskan kepada kita sama sekali kita tidak mengetahuinya. Karenanya, orang-orang yang kufur dan berbuat kesesatan tidak bisa menggunakan takdir sebagai argumen kekafiran dan kefasikan mereka.

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: ''Katakanlah, wahai Muhammad, beramallah kalian semua, karena Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang mukmin akan mengetahui amal perbuatanmu''.  (At-Taubah : 105)

Adapun jika ketetapan (qadha) tersebut telah benar-benar terjadi, maka dibolehkan menggunakan takdir sebagai argumen. Karena hal ini dapat meringankan beban orang-orang mukmin, Bahwa apapun hasil yang diterima, itulah ketetapan Allah. Perlu di ingat, apapun bentuk ketetapan tersebut, itulah yang terbaik bagi seorang mukmin, baik yang berbentuk kesenangan maupun yang berbentuk kesengsaraan.

Yang menjadi penentu adalah bagian akhir dari amal perbuatan. Seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ yang di riwayatkan Bukhari sebagai berikut:
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ 
Artinya: ''Dan sesungguhnya segala perbuatan ditentukan bagian akhirnya''. (HR.Bukhari).

Barang siapa yang telah ditetapkan  Allah beriman di akhir hayatnya, meskipun sebelumnya ia kufur dan selalu melakukan maksiat, menjelang kematiannya ia akan beriman, ia meninggal dalam keadaan iman dan di masukkan dalam surga. 

Demikian pula oarng yang telah ditetapkan kafir atau fasik di akhir hayatnya, meskipun sebelumnya ia beriman , menjelang kematiannya ia akan melakukan kekufuran, ia meninggal dalam keadaan kufur dan di masukkan ke dalam neraka. Jangan pula kita putus asa dengan sikap dan perilaku seseorang, karena yang menentukan adalah akhir hayatnya.

         Nabi  مُحَمَّد  saw sering berdo'a, sebagai berikut:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَ عَلَى طَاعَتِكَ
Ya muqallibal quluubi tsabbit qalbii 'alaa diniika wa 'alaa thoo'atika
Artinya: ''Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan lah hatiku diatas agamamu dan di atas ketaatan kepamu''.(HR.Muslim))

Berhati-hatilah dengan dosa, karena dosa menjerumuskan manusia kedalam su-ul khatimah (Akhir hayat yang buruk). Dalam tahapan pertumbuhan janin, hal ini bukti kemu'jizatan AlQur'an dan As-Sunnah yang sangat nyata.
share to whatsapp

0 Comments In "Menggunakan Takdir Sebagai Argumen"

Hai saudara/i ku, apakah kamu menemukan yang kamu cari disini ? jika belum, cobalah lihat pada daftar isi