-->

Awal Permulaan Wahyu - Shahih Bukhari

 Dari ‘Aisyah Ummul Mu’minin radhiyallahu ‘anha beliau berkata:



أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ
{ اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ }
فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ

Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan mimpi yang benar dalam tidur. Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau memilih gua Hiro dan bertahannuts yaitu ‘ibadah di malam hari dalam beberapa waktu lamanya sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk bertahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al-Haq saat Beliau di gua Hiro, Malaikat datang seraya berkata: “Bacalah?” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah).”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kembali kepada keluarganya dengan membawa kalimat wahyu tadi dalam keadaan gelisah. Beliau menemui Khadijah binti Khawailidh seraya berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!”. Beliau pun diselimuti hingga hilang ketakutannya. Lalu Beliau menceritakan peristiwa yang terjadi kepada Khadijah: “Aku mengkhawatirkan diriku”. Maka Khadijah berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturrahim, menolong yang lemah, memberi kepada orang yang tak punya, engkau juga memuliakan tamu dan menolong atas musibah – musibah kebenaran”.

Khadijah kemudian mengajak Beliau untuk bertemu dengan Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, putra paman Khadijah, yang beragama Nasrani di masa Jahiliyyah, dia juga menulis buku dalam bahasa Ibrani, juga menulis Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani dengan izin Allah. Saat itu Waroqoh sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata: “Wahai putra pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh putra saudaramu ini”. Waroqoh berkata: “Wahai putra saudaraku, apa yang sudah kamu alami”.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuturkan peristiwa yang dialaminya. Waroqoh berkata: “Ini adalah Namus, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah aku akan diusir mereka?” Waroqoh menjawab: “Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa ini kecuali akan disakiti (dimusuhi). Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekuat tenagaku”. Waroqoh tidak mengalami peristiwa yang diyakininya tersebut karena lebih dahulu meninggal dunia pada masa fatroh (terputusnya) wahyu.

Penjelasan Lafadz – Lafadz Hadits

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ
Artinya “mimpi yang benar”. Yang dimaksud dengannya adalah mimpi yang nyata dilihat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam tidur. Mimpi itu datang dengan nyata dan jelas seperti fajar subuh menyingsing. Sesungguhnya permulaan turunnya wahyu itu dengan mimpi yang nyata yang bukan dari mimpi yang bercampur dengan keadaan terjaga, agar tidak tiba – tiba datangnya malaikat kepadanya membawa Nubuwwah sehingga kemampuan kemanusiaannya tidak mampu untuk menerimanya. Juga agar menjadi pengantar dan persiapan bagi turunnya malaikat kepadanya di saat terjaga.

ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ
Artinya “Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri”. Yakni beliau dijadikan suka menyendiri dan mengasingkan diri. Saat itu beliau pergi menuju Gua Hira’. Beliau beribadah kepada Rabb nya dalam gua tersebut beberapa hari. Rahasia yang ada pada aktivitas menyendirinya Beliau ini adalah: kosongnya hati dari bertaut dengan selain Allah ‘azza wa jalla dan jauh dari urusan – urusan dunia. Sebagaimana disyariatkannya i’tikaf di masjid untuk kejernihan jiwa dan mendedikasikan diri untuk ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla.

فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ
Artinya “beribadah dalam waktu beberapa malam”. Yakni beribadah kepada Rabbnya di dalam gua. Perawi hadits menafsirkan kata yatahannats dengan beribadah. Beliau berkata: (وَهُوَ التَّعَبُّدُ), artinya “yaitu beribadah”. Dalam musthalah hadits, ini disebut dengan al-mudraj (hadits yang diselipkan di dalamnya sesuatu yang bukan termasuk matan hadits tersebut tanpa ada pemisah). Pengartian yatahannats dengan arti beribadah itu adalah tafsirnya Az-Zuhri selaku salah satu perawi sanad hadits tersebut.

يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ
Artinya “kembali kepada keluarganya”. Yakni beliau mengambil bekal berupa makanan dan minuman. Menyendirinya beliau ‘alaihissalam pada saat itu terjadi di Bulan Ramadhan. Oleh karena itulah permulaan turunnya al-Qur’an kepadanya adalah di Bulan Ramadhan. Allah ta’ala berfirman:

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِیۤ أُنزِلَ فِیهِ ٱلۡقُرۡءَانُ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. QS. Al-Baqarah: 185.

Yakni permulaan turunnya Al-Qur’an karena turunnya Al-Qur’an itu berlangsung selama 23 tahun.

حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ

Artinya “Sampai akhirnya datang Al-Haq”. Yakni perkara yang benar yaitu wahyu yang dibawa oleh Jibril ‘alaihissalam. Turun bersamanya ayat – ayat pengingat yang arif bijaksana. Allah ta’ala berfirman:

وَإِنَّهُۥ لَتَنزِیلُ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ *  نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِینُ *  عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِینَ *  بِلِسَانٍ عَرَبِیࣲّ مُّبِینࣲ

Dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. QS. As-Syu’ara’: 192-195.

مَا أَنَا بِقَارِئٍ
Artinya “Aku tidak bisa baca”. Yakni aku tidak dapat membaca dengan baik. Karena beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah buta huruf. Beliau tidak dapat membaca dan tidak dapat menulis.

فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي
Artinya “Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat”. Yakni mendekapku ke dadanya dengan dekapan yang kuat, hingga aku punya kekuatan. Sesungguhnya Jibril melakukan yang demikian itu sebanyak tiga kali untuk menguatkan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menerima wahyu serta persiapan bagi seruan yang mulia ini dengan cahaya ma’rifat dan Al-Qur’an yang disampaikan kepadanya.

ثُمَّ أَرْسَلَنِي

Artinya “kemudian melepaskanku”. Yakni melepaskanku kemudian berkata kepadaku:

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِی خَلَقَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. QS. Al-Alaq: 1.

Yakni bacalah Wahai Muhammad dengan meminta pertolongan dengan nama Rabbmu. Jangan engkau baca dengan pengetahuanmu dan kekuatanmu, akan tetapi dengan kekuatan Rabbmu dan pertolongannya. Dia lah yang akan menjadikanmu bisa meskipun engkau seorang yang buta huruf yang tidak tahu cara membaca dan menulis. Lima ayat yang diberkahi ini adalah permulaan ayat al-Qur’an yang diturunkan kepada Penutup Para Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, permulaan hubungan antara langit dan bumi, dan permulaan cahaya wahyu Ilahi bagi Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

يَرْجُفُ فُؤَادُهُ
Artinya “dalam keadaan gelisah”. Yakni hatinya berdebar dan resah karena kejadian yang beliau alami bersama malaikat Jibril dan karena perasaan takut yang menimpanya berupa situasi yang menakutkan dan sulit.

فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي
Artinya “Beliau berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!”. Yakni selubungi aku dengan selimut dan mantel. Maka Khadijah pun menyelubunginya hingga rasa takutnya hilang. Kemudian beliau mengabari Sayyidah Khadijah tentang apa yang beliau alami di Gua Hira’. Beliau berkata kepadanya: “Aku mengkhawatirkan diriku”. Ini disebabkan oleh tabiat kemanusiaannya sebelum Rasulullah memastikan bahwasanya beliau itu adalah Nabi yang diberi wahyu oleh Rabb Yang Maha Mulia.

مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا

Artinya “Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya”. Yakni Khadijah berkata kepada beliau: Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu dan merendahkanmu. Karena ia mengetahui betapa baiknya akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan betapa baiknya beliau kepada orang. Seolah – olah Khadijah berkata: Jangan khawatir terhadap dirimu, sesungguhnya engkau dilindungi oleh kelembutan Allah dan pertolongan-Nya.

وَتَحْمِلُ الْكَلَّ

Artinya “menolong yang lemah”. Yakni turut memikul beban orang yang lemah, orang yang butuh kepada pertolongan dan bantuan.

وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ

Artinya “memberi kepada orang yang tak punya”. Yakni menolong orang yang fakir miskin sehingga ia menyelamatkannya dari kefakiran dan kebinasaan dengan harta pemberiannya. Orang Arab berkata memuji manusia: adalah pemberian mereka bagi orang yang fakir dan pemberian mereka bagi yang tidak punya apa -apa. Allah ta’ala berfirman:

وَٱلَّذِینَ فِیۤ أَمۡوَ ٰ⁠لِهِمۡ حَقࣱّ مَّعۡلُومࣱ *  لِّلسَّاۤىِٕلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ

Dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta. QS. Al-Ma’arij: 24-25.

وَتَقْرِي الضَّيْفَ

Artinya “engkau memuliakan tamu”. Yakni memuliakan tamu dengan segala macam kebaikan dan kemuliaan.

وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

Artinya “engkau menolong atas musibah – musibah kebenaran”. Yakni engkau menolong di saat terjadi musibah di antara musibah – musibah yang ada atau ketika diberi cobaan dengan malapetaka. Nawa’ib adalah kata jama’ dari naibah yang artinya musibah. Lafadz itu mencakup segala macam hilangnya kebaikan.

Penarikan Kesimpulan Yang Sangat Bagus Sekali

Khadijah radhiyallahu ‘anha menarik kesimpulan bahwa barang siapa yang terdapat pada dirinya pekerti yang baik ini dan kemuliaan – kemuliaan yang terpuji itu, tidak mungkin Allah akan menelantarkannya selama – lamanya atau dikuasakan padanya was – was syaithan. Bahkan pasti yang datang kepadanya adalah kemuliaan dari Allah ta’ala. Betapa ia adalah wanita yang bijaksana dan cerdik. Ia menguatkan jiwa Nabi dan mengokohkan ketetapan hatinya untuk pergi membawa kesulitan yang menemuinya. Ia bersumpah baginya dan menegaskan sumpahnya itu dengan perkataannya:

كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا

“Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya”.

Kemudian ia pergi dengannya ke anak pamannya yaitu Waraqah bin Naufal.

هَذَا النَّامُوسُ

Artinya “Ini adalah Namus”. Yang dimaksud dengan Namus adalah Jibril ‘alaihissalam. Yakni ini adalah malaikat yang turun membawa wahyu kepada utusan Allah. Dia adalah malaikat yang dapat dipercaya atas wahyu Ilahi. Allah menurunkannya kepadamu  sebagaimana Allah menurunkannya kepada Musa bin Imran ‘alaihissalam.

يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا

Artinya “Duhai seandainya aku masih muda”. Yakni aduhai kiranya aku seorang pemuda ketika kaummu mengusirmu, niscaya aku menjadi penolongmu atas penyampaian dakwah kepada Allah. Asal makna kata al-jadza’ adalah kambing kecil.

أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ

Artinya “Apakah aku akan diusir mereka?”. Kalimat tanya yang memiliki makna pengesampingan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dikesampingkan agar kaumnya punya alasan yang bagus untuk mengusirnya dari Makkah. Karena beliau itu populer disisi mereka dan terkenal dengan kejujuran dan sifat amanahnya, bagaimana bisa mereka mengusirnya dari Makkah sedangkan beliau memiliki akhlak yang mulia dan sifat yang baik seperti itu?!

نَصْرًا مُؤَزَّرًا

Artinya “pertolongan sekuat tenaga”. Yakni jika aku masih hidup di zaman engkau diutus, dan Allah memuliakan engkau dengan kenabian, niscaya aku akan menolongmu dengan pertolongan sekuat tenagaku. Diambil dari kata الأَزْر yang bermakna kuat. Allah ta’ala berfirman:

ٱشۡدُدۡ بِهِۦۤ أَزۡرِی

“Teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia.” QS. Thaha: 31

لَمْ يَنْشَبْ

Artinya “tak lama”. Yakni Waraqah tidak tinggal pada masa yang lama hingga Allah ta’ala mewafatkannya.

وَفَتَرَ الْوَحْيُ

Artinya “masa terputusnya wahyu”. Yakni menunda wahyu dan mengakhirkan turunnya wahyu atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beberapa waktu.

Faedah Hadits

Hadits yang mulia ini memiliki beberapa faedah yang sebagiannya kami sebutkan sebagai berikut:

Pertama, bahwasanya mimpi yang dilihat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam tidurnya termasuk dalam salah satu jenis – jenis wahyu.

Kedua, disyariatkannya mengambil bekal ketika akan pergi jauh dari keluarga. Sungguh Pemimpin Orang – Orang yang bertakwa shallallahu ‘alaihi wasallam telah melakukannya.

Ketiga, bahwasanya ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah lima ayat berikut:

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِی خَلَقَ *  خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنۡ عَلَقٍ *  ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ *  ٱلَّذِی عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ *  عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ یَعۡلَمۡ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. QS. Al-‘Alaq: 1-5.

Keempat, dorongan atas pengajaran dan mengulanginya sebanyak tiga kali sebagaimana yang dilakukan oleh Jibril ‘alaihissalam bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kelima, permulaan/pembukaan membaca al-Qur’an dan seluruh amal – amal itu hendaknya dimulai dengan bismillah berdasarkan firman Allah ta’ala:

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu. QS. Al-‘Alaq: 1.

Keenam, anjuran membuat nyaman jiwa dan batinnya orang yang ditimpa suatu perkara dengan menyebutkan kemudahan-kemudahan yang akan meringankan urusannya orang tersebut.

Ketujuh, bahwasanya akhlak yang baik dan amal – amal kebaikan itu adalah sebab keselamatan dari kematian yang buruk.

Kedelapan, bolehnya memuji manusia dihadapannya untuk menenangkan hatinya dan menentramkannya.

Kesembilan, barang siapa yang ditimpa suatu perkara yang menyita pikirannya, disukai baginya untuk mempelajari siapa orang yang dapat dipercaya nasehat dan pendapatnya.

Kesepuluh, dalam hadits ini terdapat dalil yang tepat atas kesempurnaan Khadijah radhiyallahu ‘anha, keunggulan akalnya, dan besarnya pemahamannya dalam perkara agama. Sungguh beliau telah menentramkan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menyebutkan penjagaan Allah kepadanya dari segala macam yang mengkhawatirkan dan keburukan, dengan pemuliaan Allah kepadanya berupa tabiat yang tiada bandingannya dan akhlak yang mulia lagi terpuji.

Peringatan Lembut

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melihat Jibril dalam wujud malaikat aslinya yang Allah ciptakan atasnya kecuali pada dua tempat:

Pertama: pada masa terputusnya wahyu sebagaimana dalam hadits Jabir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda:

بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي

“Ketika sedang berjalan aku mendengar suara dari langit, aku memandang ke arahnya dan ternyata Malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hiro, duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun ketakutan dan pulang, dan berkata: “Selimuti aku. Selimuti aku”. HR. Bukhari.

Kedua: ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam naik (mi’raj) bersamanya ke langit tertinggi. Beliau melihat wujud Jibril ‘alaihissalam dalam wujud aslinya. Ia mempunyai enam ratus sayap. Yang demikian itu terjadi di Sidratul Muntaha. Berdasarkan firman Allah subhanahu:

وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ *  عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ

Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. QS. An-Najm: 13-14.

نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ

Yakni di lain waktu. ‘Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Jibril ‘alaihissalam sebanyak dua kali.

Selain yang demikian itu Jibril mendatangi beliau dalam wujud seorang manusia laki – laki, atau dalam wujud orang Arab Badwi, atau dalam wujud Dihyah al-Kalbi salah seorang sahabat yang mulia.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan: Syarah al-Muyassar Li Shahih al-Bukhari oleh Syaikh Muhammad ‘Ali As-Shabuni.

share to whatsapp

0 Comments In "Awal Permulaan Wahyu - Shahih Bukhari"